Saturday, March 6, 2010

Verifikasi Kitab Suci

Tulisan ini saya awali dengan sebuah pengalaman menarik dari seorang teman saya (Dosen di IAIN), begini ceritanya:
Pada suatu hari, seorang Nashrani datang ke rumah teman saya. Seorang Nashrani itu mengutarakan maksudnya ingin mengetahui lebih dalam tentang Kitab Suci Al-Qur’an (belajar tentang Al-Qur’an) kepada teman saya. Sebagai timbal-baliknya ia juga menawarkan untuk mengajarkan kitab suci agamanya (Alkitab) kepada teman saya. Kontan, teman saya bilang kepada Nashrani itu: “Bagaimana mungkin saya mempelajari kitab saudara, sedangkan kitab saudara tidak ditulis dalam bahasa aslinya. Berbeda dengan Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa aslinya (bahasa Arab).”

Tidak dapat dipungkiri, bahwa terjemahan tidak mampu menampung maksud yang dikehendaki oleh bahasa aslinya. Sehingga, sedikit demi sedikit hasil terjemahan tersebut menjauh/melenceng dari maksud yang dikehendaki oleh bahasa aslinya. Apalagi jika yang menterjemahkannya memang sama sekali tidak mengerti dengan maksud yang dikehendaki dalam bahasa aslinya.

Suatu hal yang menarik dari Kitab Suci umat Islam, Al-Qur’an, sejak pertama kali diturunkannya dari Allah Tuhan Yang Maha Tunggal kepada Nabi Muhammad saw. sampai saat ini dan sudah pasti hingga hari kiamat, tetap dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Pada dasarnya, Al-Qur’an, kapan dan dimana saja dapat dijumpai dalam dua bentuk. Pertama, Al-Qur’an dalam bahasa aslinya saja, tanpa terjemahan. Kedua, Al-Qur’an dalam bahasa aslinya disertai dengan terjemahan. Bentuk yang pertama inilah -yaitu Al-Qur’an dalam bahasa aslinya saja, tanpa terjemahan- yang lebih mendominasi di rumah-rumah umat Islam. Sebab, walaupun sebagian mereka tidak memahami maknanya karena tanpa terjemahan, membaca bahasa aslinya saja sudah bernilai ibadah (mendapat pahala). Adapun dalam bentuk yang kedua, walaupun ada terjemahannya (misalnya bahasa Indonesia), akan tetapi tidak meninggalkan bahasa aslinya, bahasa Arab. Sehingga, apabila terjadi perbedaan hasil terjemahan dari satu orang dengan yang lainnya, maka dapat dilakukan konfirmasi dengan bahasa aslinya. Namun demikian, terjemahan yang diakui ialah penterjemahan yang dilakukan oleh suatu Tim Ahli Penterjemah Al-Qur’an yang telah disahkan di setiap negara. Beginilah cara umat Islam memelihara kitab sucinya, sehingga sudah pasti terhindar dari penyelewengan dan perubahan oleh tangan berdosa manusia.

Sangat berbeda halnya dengan kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa al-Masih as dalam bahasa Suryani atau Taurat kepada Nabi Musa as dalam bahasa Ibrani sebagai bahasa aslinya. Kitab umat Islam ini, yang juga merupakan kitab suci umat Nashrani dan Yahudi, sekarang tidak lagi bisa ditemui bahasa aslinya. Artinya, kitab Injil dan Taurat yang sekarang ini hanya dapat ditemui terjemahannya saja, tanpa bahasa aslinya. Maka dapat dipastikan, baik umat Nashrani, Yahudi, maupun umat Islam sekarang ini tidak pernah melihat kitab Injil dan Taurat dalam bahasa aslinya. Hal ini tentunya mengundang banyak pertanyaan. Apakah masih ada kitab Injil dan Taurat yang berbahasa aslinya? Kalau ada, kenapa umat Nashrani, Yahudi dan umat Islam tidak pernah melihatnya, apalagi membacanya? Kenapa tidak pernah terdengar ada orang yang ingin belajar bahasa Suryani atau Ibrani? Selamatkah maksud atau makna yang dikehendaki Tuhan dalam bahasa aslinya, setelah diterjemahkan?

Misalnya, pada awalnya kitab Injil dalam bahasa Suryani, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, kemudian dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris, dari bahasa Inggris kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apakah dari proses penterjemahan yang demikian, maksud firman Tuhan akan selamat dari perubahan? Bagaimana jika prosesnya lebih panjang lagi? Sungguh mustahil ia akan selamat dari perubahan, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Ini tentu saja tidak hanya pada kitab Injil, akan tetapi juga pada kitab-kitab umat Islam lainnya, seperti Kitab Taurat, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as dalam bahasa Qibti.

Maka, sungguh secara ilmiah kitab yang tidak mempunyai bahasa asli seperti itu dapat disebut kitab yang tidak asli lagi (tidak otentik). Dari segi bahasa asli atau tidak aslinya ini, tentunya orang yang berakal sehat dapat memberikan penilaian yang objektif, manakah kitab yang otentik?

Perhatikanlah Al-Qur’an, ketika Allah SWT di dalam surah Al-Hijr ayat 9 telah berjanji untuk memelihara Al-Qur’an dari segala bentuk penyelewengan dan perubahan, sehingga tetap asli sepanjang zaman.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an, dan sungguh Kami pula yang memeliharanya.”
Demikianlah, Allah telah berjanji untuk menjaga Al-Qur’an, dan Ia sangat menepati janji-Nya. Maka tidak akan ada yang sanggup merubah isi Al-Qur’an walaupun satu ayat kalau Allah Yang Maha Pencipta yang memeliharanya. Dan sudah menjadi ketetapan-Nya, bahwa Ia tidak pernah menjamin atau berjanji untuk menjaga dan memelihara kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para Nabi dan Rasul terdahulu. Sehingga sangat wajar dan dapat dibuktikan secara ilmiah kenapa umat Islam sangat yakin bahwa kitab-kitab umat Islam yang terdahulu (Kitab Taurat, Zabur dan Injil) jika masih ada sampai sekarang ini, akan tetapi sudah tidak asli lagi karena telah dirobah oleh tangan-tangan kotor manusia.

Urutan kitab-kitab suci tersebut dari yang pertama hingga akhir ialah:
Pertama, kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa as dalam bahasa ‘Ibrani. Isinya menerangkan hukum-hukum syariat dan akidah yang benar, memberi kabar gembira dengan lahirnya seorang Nabi dari keturunan Ismail yaitu Nabi Muhammad saw., mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad datang dengan membawa syariat yang baru yang memberi petunjuk ke surga, menerangkan keadaan bangkit dari kubur dan kumpul di padang mahsyar dan lain sebagainya. Kedua, kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud as dalam bahasa Qibthi. isinya adalah doa-doa, zikir-zikir, nasihat-nasihat dan hikmah-hikmah. Kitab ini tidak membawa hukum syariat baru. Sebab, Nabi Daud diperintahkan untuk mengikuti hukum syariat Nabi Musa as. Ketiga, kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa al-Masih putra Maryam as dalam bahasa Suryani. Isinya mengajak manusia untuk mengesakan Allah, menjelaskan dan melengkapi sebagian hukum-hukum Taurat yang cabang, memberi kabar gembira dengan lahirnya nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad saw. Keempat dan yang terakhir, kitab Al-Qur'an diturunkan kepada semulia-mulia Nabi yaitu Nabi Muhammad saw dalam bahasa Arab. Al-Qur'an adalah penghabisan kitab-kitab ketuhanan, sebagai korektor dan penyempurna atas sekalian kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Selain itu, telah diturunkan 10 suhuf (lembaran wahyu) pada Nabi Adam as, 50 suhuf pada Nabi Syits, 30 suhuf pada Nabi Idris as, 10 suhuf pada Nabi Ibrahim as, dan 10 suhuf pada Nabi Musa as.


Dengan demikian, apabila Tuhan menurunkan suatu kitab sesudah diturunkan-Nya suatu kitab sebelumnya, hal itu menyatakan bahwa kitab yang sebelumnya (terdahulu) itu sudah tidak berlaku lagi karena beberapa hal (salah satunya karena telah dirobah oleh tangan manusia) dengan adanya kitab yang diturunkan belakangan. Maka, ketika diturunkan kitab Injil kepada Nabi Isa al-Masih as, maka kitab Taurat yang datang terdahulu sudah tidak berlaku lagi dan kewajiban bagi kaum Yahudi untuk berpedoman atau berpegang kepada kitab Injil. Maka demikian pula, ketika diturunkan kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw, maka kitab Injil sudah tidak berlaku lagi, dan kewajiban bagi kaum Yahudi dan Nashrani untuk menjalani kehidupan di dunia ini dengan hanya berpegang dan berpedoman kepada kitab suci Al-Qur’an. Dengan dirurunkannya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang terakhir dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul atau utusan yang terakhir, maka sangat mustahil apabila Al-Qur’an mengalami perubahan atau penyelewengan sebagaimana kitab-kitab terdahulu. Hukum Al-Qur'an itu kekal sampai hari kiamat, tidak mungkin terjadi perubahan dan pergantian sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hijr: 9 di atas.

Oleh sebab itulah, Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang paling otentik di muka bumi dan diturunkan oleh Allah SWT. untuk seluruh umat manusia, sejak awal diturunkannya.

No comments: